Waspada Kerumunan Wisata

Bony Eko Wicaksono
SUKOHARJO–Tradisi padusan menjelang Ramadan di lokasi wisata resmi ditiadakan di Soloraya. Namun diprediksi lonjakan kunjungan di objek wisata tetap terjadi.

Masyarakat diimbau patuh protokol kesehatan agar kerumunan di lokasi wisata tidak menjadi transmisi virus corona. “Risiko transmisi penularan saat tradisi padusan cukup tinggi. Hal ini yang menjadi pertimbangan utama pemerintah untuk melarang tradisi padusan di objek wisata air,” kata Penjabat (Pj) Sekda Sukoharjo, Budi Santoso, seusai acara public speaking di Gedung Menara Wijaya, Rabu (7/4/2021).

Menurut Budi, Pemkab Sukoharjo melakukan rapat koordinasi membahas pelaksanaan ibadah selama Bulan Puasa pada masa pandemi Covid-19. Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah melarang tradisi padusan.

Kebijakan ini diambil guna menahan laju persebaran pandemi Covid-19. Kebijakan serupa diberlakukan saat datangnya Ramadan pada 2020 akibat pandemi Covid-19. Pemerintah tak mau mengambil risiko yang bisa memicu ledakan kasus Covid-19 di Kabupaten Jamu.

“Larangan tradisi padusan bertujuan mencegah kerumunan massa yang menjadi penyebab penularan Covid-19. Masyarakat bakal berkerumun dan mengabaikan protokol kesehatan jika tradisi padusan diperbolehkan,” ujar dia.

Selama ini, tradisi padusan di Kabupaten Jamu dipusatkan di kolam renang objek wisata Batu Seribu di Kecamatan Bulu. Objek wisata Batu Seribu ditutup selama setahun sejak munculnya pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
Budi menyebut hanya tradisi padusan yang dilarang pemerintah. Sementara kegiatan ibadah dan sosial masyarakat selama bulan puasa diperbolehkan dengan catatan wajib menjalankan protokol kesehatan dan pembatasan kapasitas tempat ibadah.

Beleid tersebut mengacu pada panduan ibadah bulan pausa dan Idul Fitri yang ditujukan kepada pengurus Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), pengelola masjid dan musala di setiap daerah.

Kegiatan ibadah seperti salat fardu, salat tarawih, tadarus Alquran, dan iktikaf diperbolehkan dengan pembatasan jumlah warga yang melakukan salat berjamaah. Pembatasan kapasitas tempat ibadah sebesar 50 persen. “Belum ada rencana pemerintah melaksanakan kegiatan tarawih keliling atau tarling di setiap kecamatan. Tahun ini sama seperti bulan puasa 2020. Tidak ada kegiatan tarling,” ujar dia.

Disinggung mengenai buka puasa bersama di restoran atau rumah makan, Budi menjelaskan masyarakat diperbolehkan melakukan buka puasa bersama dengan anggota keluarga dengan catatan wajib menjalankan protokol kesehatan. Namun, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk melaksanakan buka puasa bersama di rumahnya masing-masing.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, meminta masyarakat mengurangi mobilitas ke luar rumah selama bulan puasa. Kendati tren kasus Covid-19 turun namun masih berpotensi terjadi penularan secara masif apabila masyarakat tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Di Klaten, Satgas PP Covid-19 tingkat kecamatan melakukan koordinasi secara ketat bersama dengan pemdes dan RT/RW untuk memantau sejumlah objek wisata air di daerah setempat, Minggu-Senin (11-12/4/2021).
Setiap pengelola objek wisata yang dinilai melanggar protokol kesehatan sesuai ketentuan bakal dikenai sanksi tegas, yakni hingga ke penutupan sementara.

Kecamatan Polanharjo merupakan salah satu daerah di Klaten yang banyak terdapat umbul alias objek wisata air. Di daerah ini terdapat Umbul Ponggok (Desa Ponggok), Umbul Besuki (Desa Ponggok), Umbul Kapilaler (Desa Ponggok), Kolam Tirta Kamandanu (Desa Nganjat), Umbul Manten (Sidowayah), Umbul Siblarak (Sidowayah), dan lainnya.

Setiap memasuki momentum padusan, yakni 1-2 hari sebelum memasuki bulan Ramadan, berbagai umbul itu biasanya banyak dikunjungi orang. Sejauh ini, 1 Ramadan 1442 H telah ditetapkan jatuh, Selasa (13/4/2021).
”Saat padusan itu, objek wisata air diputuskan boleh dibuka tapi harus tetap menaati protokol kesehatan. Itu sudah menjadi komitmen bersama dalam mencegah Covid-19,” kata Camat Polanharjo, Joko Handoyo, saat ditemui Koran Solo, Senin (5/4/2021).

Bakal Dipantau
Joko Handoyo mengatakan tim Satgas PP Covid-19 tingkat kecamatan bakal memantau ber­bagai umbul di tengah momen­tum padusan mendatang. Hal itu dilakukan dengan menjalin koordinasi bersama pemerintah desa (pemdes) dan Satgas di tingkat RT/RW.

”Yang paling utama, jumlah pengunjung yang masuk ke objek wisata jangan sampai melebihi ketentuan yang sudah disepakati. Jika itu dilanggar, tentu akan diambil tindakan tegas. Tentu akan ditegur. Bahkan bisa juga ke penutupan sementara,” katanya.

Pemkab Boyolali juga akan memastikan pembatasan jum­lah pengunjung di lokasi-lokasi wisata. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Boyolali, Susilo Hartono, mengatakan sama seperti tahun lalu, acara padusan di tahun ini masih ditiadakan.

”Padusan kami tiadakan semua. Situasi masih belum memungkinkan,” kata dia kepada Koran Solo, Minggu (4/4/2021).

Pada tahun lalu lokasi wisata termasuk lokasi padusan ditutup untuk umum. Bedanya, pada tahun ini lokasi wisata, termasuk lokasi-lokasi yang sering digunakan untuk padusan tetap buka, namun tidak ada acara khusus padusan.
Lokasi-lokasi tersebut di antaranya adalah Umbul Pengging dan Tlatar. Diketahui, setiap tahunnya, saat momentum padusan, di lokasi-lokasi tersebut diwarnai dengan kegiatan seni budaya atau hiburan.

”Untuk tahun ini tetap buka, tapi tidak ada acara khusus. Kami nanti juga berupaya untuk membatasi jumlah pengunjung. Kami akan buatkan edaran,” jelas dia. Untuk lokasi wisata yang buka untuk umum hanya dibolehkan menerima kunjungan sebanyak 50% dari kapasitas biasanya.

Pengelola Umbul Pengging, Wardoyo, mengatakan untuk saat ini lokasi Embung Pengging tetap dibuka untuk umum, namun tidak ada acara padusan. ”Padusan tidak ada, tapi kalau ada yang mau mandi, dipersilakan. Sampai sekarang belum ada informasi soal itu [pelaksanaan acara padusan],” kata dia.  (Bayu Jatmiko Adi/ Ponco Suseno)